Harusnya Aku Bagaimana?

Ditemukan sebuah surat …

Bermula dari rasa kagum
… tiba-tiba terselip perasaan itu
… aku tahu, kau sudah ada yang punya
… dan kau tak menginginkan diriku
… tapi, aku harus bagaimana?

Aku masih memiliki akal sehat
… untuk berpikir
… namun kala hati mengambil alih
… aku tak kuasa
… aku harus bagaimana?

Bolehkah ku memohon
… agar kau diam-diam meninggalkan diriku
… agar hati ini tidak tahu engkau telah pergi
… karena aku tak tahu,
… aku harus bagaimana?

[melipat surat, melangkah … menjauh …
boys do what they are told to. oh, yeah, big boys don’t cry!
menyeka mata. berharap tidak ada yang melihat …]

Makin Susah Update Blog

Nampaknya makin susah bagi saya untuk update blog ini. Bukan, bukan tidak ada ide, tetapi saya sudah makin serius menuliskan semuanya di blog saya yang ada di wordpress. (Lihat: rahard.wordpress.com)

ke sana saja ya …

Lagian, saya sudah tidak sempat buka friendster. Paling-paling dibuka sekali dalam sebulan. Nah lho.

Capek Manggung

Setelah manggung (nge-band) 20 kali dalam beberapa bulan terakhir ini, saya merasa capek. Bahkan kadang timbul bosan. Halah … waduh. Wah, saya jadi mengerti. Jangan-jangan para artis / musisi yang top pun merasakan demikian. Bayangkan, manggung di beberapa tempat (bertahun-tahun) dengan lagu yang sama. Penonton senang, tapi artisnya malah bosen. he he he.

Untuk itu harus selalu ada yang baru. Tapi … kadang-kadang penonton / pendengar nggak mau tahu. Mereka tidak ingin sang artis / musisi berubah. Maunya tetap sama. Nah, jadi terpaksa sang artis membawakan lagu lamanya meskipun sebenarnya dia sudah bosan. Jadi, ekspresinya palsu atau kosong. …

Oh ya, untuk urusan manggung yang lain, silahkan lihat blog saya di sini.

Belajar Menghadapi Masalah

Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi dengan beberapa mahasiswa (sendiri-sendiri, nggak bersamaan). Diskusinya adalah soal nila pelajaran mereka yang jeblok. Saya lihat, memang serius jeblok. Mereka ini bukan orang yang bodoh. Kalau diukur, IQnya pasti di atas rata-rata.

Ternyata yang membuat mereka kacau dalam pelajaran adalah banyaknya masalah yang mereka hadapi. Ada yang terkait dengan masalah keluarga, ada masalah dengan kesehatan, ada masalah dengan bad decision yang pernah mereka ambil, ada masalah terlalu banyak kegiatan (termasuk kerja, berdagang, dan seterusnya sehingga lupa sekolah), ada masalah dengan belum menemukan cara belajar, ada masalah dengan terpengaruh kawan di tempat kos yang kerjaannya tidak produktif, dan seterusnya.

Perlu diingat, sebagai manusia, kita PASTI punya masalah dan akan selalu dihadapkan dengan masalah. Sekarang problemnya adalah bagaimana menghadapi masalah tersebut?

Ada yang mencoba melarikan diri. Tapi dia tidak tahu bahwa masalah itu akan tetap membuntuti dia seperti bayangan. he he he. Jadi, hadapi saja masalah itu.

Yang paling sering adalah mengubah pikiran kita. Ada masalah yang sebetulnya SANGAT SIMPEL. SANGAT MUDAH diselesaikan. Tapi karena kita berpikir macam-macam, berpikir terlalu jauh, bagaimana kalau gini dan gitu, akhirnya malah kita tidak menjadi didominasi oleh masalah itu.

Jangan sampai masalah mendominasi pikiran kita. Itu hanya ada di pikiran kita saja. Hadapi! Kita ajak berdamai (atau kalau perlu kita ajak berkelahi) itu pikiran kita. Jangan mau dikuasai oleh pikiran.

Dengan cara menjinakkan pikiran maka kita sudah setengah jalan dalam memecahkan masalah yang kita hadapi. Jadi, jangan terlalu dibesar-besarkan masalah itu di dalam pikiran kita. Kita bilang, orang lain punya masalah yang lebih besar dari ini. Ini kecil. Hanya Tuhanlah yang besar. Kemudian kita pecahkan masalah itu. Selesai.

Kemudian … maju ke masalah berikutnya. He he he. Nggak bakalan selesai nih. … Biarin. Emang sudah begitu jalannya.

Kerja, kerja, mari kita kerja

Dulu ada lagu anak-anak yang kira-kira isinya ada kata-kata … "kerja, kerja, mari kita kerja". Seterusnya lupa. Ha ha ha. Ada yang tahu?

Maksud saya sih bukan untuk nyari lagunya, tapi ingin membahas topik ini; kerja keras. Yang saya maksudkan dengan "kerja" itu  bukan hanya pegawai kantoran, atau pekerja di restoran, toko, pasar, dan seterusnya, tapi maksudnya bisa juga untuk (maha)siswa yang kuliah atau ke sekolah. Pokoknya yang bukan main-main gitu.

Kadang kita males untuk kerja, belajar, kuliah. Bawaannya kalau nggak ngantuk, lapar, dan nggak bisa konsentrasi. Adaaa aja gangguan. Tadinya saya pikir saya sendiri yang seperti ini. Eh, ternyata orang lain juga. Ha ha ha. Jadi ternyata sifat orang itu sama ya … males. he he he.

Jadi bagaimana dong kita menyikapi hal ini? Bisa juga kita ambil keputusan, ah main-main aja. Atau dengan kata lain melarikan diri dari masalah, bukan menghadapinya.

Cara yang lain, yang lebih bagus, kita cari akal agar kita nggak malas. Misalnya, kalau lagi belajar, cari problem yang menarik. Kalau nggak nemu yang menarik gimana? (Misalnya matematika … bikin puyeng, atau sejarah yang mbosenin, atau sastar yang menjemukan.) Kata orang ada yang dia ngakalin di otaknya. Puter otak sehingga kita bisa buat cerita, permainan, menghayal tentang pelajaran itu. Misalnya, kalau matematika bisa menghayal kita jadi John Nash (yang di film Beautiful Mind itu - makanya banyak-banyak nonton film he he he). Kita menemukan rumus! Atau kalau di sejarah, kita menjadi time traveller … berjalan menembus waktu ke jaman purba. Kita  menjadi raja atau ratu di jaman itu. whu hu … Atau kalau di dunia sastra, kita menjadi seniman yang mengarang puisi.

Otak kita ternyata "sadis" juga. Dia bisa diajak untuk "menipu" diri kita supaya senang. Tapi bisa juga kita bilang sebel / males / ngantuk, maka kita jadi seperti apa yang kita pikirkan tersebut. Nah, makanya kita pikirin yang seneng-seneng aja ya.

Sekarang, saya mau menghayal dulu … jadi musisi yang jagoan. he he he …

Masalah Kita Paling Berat

Seringkali kita merasa bahwa masalah yang kita hadapi adalah masalah yang paling berat di dunia. Seringkali kita merasa frustasi, kesal, geram, marah, lelah, capek, putus asa, dan seterusnya.

Nah, kalau menghadapi situasi seperti ini biasanya saya mencoba melihat masalah orang lain. Kasarnya sih melihat orang yang lebih menderita dari kita. (Jahat nggak ya?) Setelah melihat itu, saya baru sadar bahwa permasalahan yang saya hadapi tidak sebesar yang dihadapi orang itu. Memang kita masih punya masalah (yang harus diselesaikan, bukan untuk dihindari), tetapi sekarang rasa kesal dan frustasi kita bisa lebih berkurang.

Seringkali juga saya ikut terlibat dalam memecahkan masalah orang sehingga masalah yang saya hadapi terlihat kecil, dan dipecahkan tanpa terlalu banyak pertimbangan. Maksudnya bukan sekenanya, gitu. Maksudnya kita nggak terlalu mikir terlalu jauh dan berlebihan sehingga dengan cepat bisa kita pecahkan masalah tersebut.

Jadi, kalau kita punya masalah … santai saja. Kita pecahkan itu masalah. Ok?

Gak boleh ngomong!

Minggu lalu mulai terasa sakit di tenggorokan. Biasa laryngitis(?). Tetapi dipaksa seolah gak ada apa-apa. Nah, ternyata kebawa terus dan hari Kamis malam suara habis. Hilang. Gak keluar suara. Halah.

Tadi baru saja pulang dari dokter. Kata dokter, penyanyi ya? He he he. Nggak sih, tapi memang hari Kamis malamnya itu main band dengan kawan-kawan. Ya jelas menyanyi. Itulah sebabnya hilang suara.

Pulang dari dokter diberi obat untuk sakit di tenggorokan ini dan batuknya (ya, sekarang tambah batuk kalau malam). Satu lagi saran bu dokter: puasa bicara. Hah? Gimana nih? Padahal minggu depan (3 hari lagi) harus memberikan presentasi dan latihan band. Latihan band bisa tidak keluar suara (main gitar aja), tapi memberikan presentasi? Kan harus keluar suara. Ya sudah. Kita lihat nanti saja. Ngapain dipikirin sekarang ya?

Yuk kita berkarya di Internet

Saya lihat banyak di antara kita yang menggunakan Internet hanya untuk chatting dan browsing saja (plus baca email). Bagaimana kalau kita juga menghasilkan karya?

Maksudnya menghasilkan karya itu nggak harus yang hebat dan heboh. Contohnya, membuat gambar-gambar digital (pakai Gimp, Photoshop, atau apa pun), membuat cerita (puisi, cerpen, novel, dongeng anak-anak), membuat lagu, membuat soal-soal pelajaran yang bisa dibagi ke kawan-kawan, dan masih banyak lagi. Membuat 1 soal matematika kan nggak susah. Yang susah kan menjawabnya … ha ha ha.

Jadi … kalian bisa tunjukkan ke ortu kalian bahwa Internet itu bermanfaat. Jadi kalau mereka mau ngelarang, pikir-pikir dulu. he he he. Kok ngajarin kayak gini ya? Biarin. Toh produktif. Siapa tahu kalian jadi terkenal karena karya kalian itu.

Tergila-gila dengan lagu

Kalau saya sedang suka satu lagu, biasanya saya putar berulang-ulang. Nah, kalau sudah begini … anak saya yang protes. Boston … eh bosen, katanya. He he he. Tapi, gimana lagi. Lagi suka…

Kebiasaan ini rasanya nggak aneh. Kalian kan juga begitu. Ya nggak?

Lagu yang sedang saya suka tidak harus lagu baru. Dia bisa lagu lama yang entah kenapa jadi pengen didengerin lagi. Seperti kali ini, lagu yang sedang saya suka adalah lagu "Dewi" dari Dewa. Wah … lucu juga ya … dewi, dewa. ha ha ha. Suka lagu ini karena minggu lalu(?) sepintas - sekelebat - terlihat Dewa di TV pas sedang menyanyikan lagu ini. Pokoknya asyik saja. Jadi hari ini, lagu ini sudah saya putar lebih dari dua puluh kali. He he he …

Sekarang mau muter lagu itu, tapi pakai earphone. Supaya nggak diprotes. Lagian ini sudah malam. … Good night.

Kamu bisa kerjasama?

Banyak yang mengira bahwa kemampuan IQ (nilai raport) yang dicari perusahaan ketika mereka mencari pegawai. Salah besar!

Ternyata setelah saya amati lebih jauh, kemampuan kerjasama (team work) merupakan salah satu hal yang paling penting. Atau mungkin juga yang paling penting. Nilai sekolah, raport, transkrip, pokoknya yang berkaitan dengan IQ memang penting. Dia memang penting pada tahap awal untuk menentukan dilihat atau tidaknya (perlu diwawancara atau tidak), tetapi setelah itu … nilai tersebut dimasukkan ke tong sampah. Penguji akan lebih tertarik kepada kemampuan berkomunikasi dan bekerjasamanya seseorang.

Teamwork, kerjasama, ternyata tidak mudah. Agar kamu bisa kerjasama dengan orang lain, perlu belajar dan perlu pengalaman.

Kadang-kadang kita berada dalam satu tim dengan orang yang nyebelin. Gimana kita menyikapinya? Kadang kala kita juga dalam satu tim dengan orang yang nggak pedulian, padahal tugas harus diselesaikan. Nah, di sinilah kita harus belajar. Belajar bagaimana jadi pemimimpin, bagaimana memimpin (apalagi orang yang dipimpinnya ngaco-ngaco), bagaimana harus bersabar, bagaimana membagi-bagi tugas ke anggota, bagaimana ikut menyelamatkan tim dari kekalahan, kehancuran. Di situ juga kita belajar menerima kritikan (nggak boleh marah, nggak boleh defensif). Begitulah. Kalau nggak belajar, gimana bisa? Ya nggak?

Itulah sebabnya ketika masih di sekolah atau di kamus, sering-sering gabung dengan organisasi. Misalnya ada OSIS, himpunan mahasiswa, atau kelompok olah raga. Pokoknya belajarlah untuk kerjasama.

Nah, siap bekerjasama dengan saya?

Next Page »