Masa Depan Perguruan Tinggi
IBM membuat sebuah dokumen yang diberi judul "Global Innovation Outlook (GIO) 2004." Buku ini berisi hasil diskusi senior technical and business experts
dari IBM dengan 100 perusahaan dan institusi dari 24 negara / daerah.
Ada banyak hal yang menarik dari buku tersebut. Kali ini saya akan
mencuplik hal yang terkait dengan perguruan tinggi.
Ada satu bagian dari buku tersebut yang berjudul "For The Knowledge Worker, Work Becomes Academic." Saya kutipkan sebagian saja:
If
Innovation will continue to occur more rapidly in the 21st century, it
follows that knowledge, expertise and skills will change just as
rapidly. The majority of this knowledge will likely be generated with
innovative companies.
Waduh! IBM mengatakan
bahwa ada dua implikasi dari pernyataan di atas. Yang pertama, para
pekerja tidak dapat lagi mengandalkan kepada keahlian (termasuk gelar
di perguruan tinggi) yang mereka kuasai di awal hidup mereka untuk
tetap menjadi terdepan. Yang kedua, kecil kemungkinan bagi perguruan
tinggi dan institusi pendidikan lainnya untuk mampu menangkap
(mengikuti?) dinamika pekerjaan yang dinamis.
Lebih lanjut lagi, inovasi membutuhkan kerjasama lintas bidang sehingga pekerja harus memahami berbagai bidang ilmu (cross disciplinary degree). Sejarah membuktikan bahwa perguruan tinggi tidak mampu membuat program studi lintas bidang yang dibutuhkan tersebut.
Lantas bagaimana solusinya?
Para peserta GIO menganjurkan pendekatan lain. Mungkin perusahaanlah yang harus mendefinisikan (codify)
pengetahuan baru. Pendekatan ini mendorong perusahaan untuk mengajukan
diri untuk diakreditasi juga sebagai institusi pemberi gelar (degree).
Mengapa tidak? Bahkan mungkin gelar dari perusahaan ini lebih banyak
diminati! Buktinya saat ini sertifikasi IT dari perusahaan atau vendor
(seperti Cisco, Microsoft, Oracle, dan sejenisnys) juga lebih banyak
dihargai ketimbang gelar di perguruan tinggi.
Bagaimana dengan
nasib perguruan tinggi? Apakah perguruan tinggi lebih memfokuskan
kepada dasar-dasar (foundation) yang sifatnya umum sehingga tetap
dibutuhkan, sementara perusahaan memfokuskan kepada spesialisasi
sebagai lanjutan dari proses pendidikan? Ataukah perguruan tinggi
mencoba mendidik keduanya; generalis dan spesialis sekaligus? Memangnya
perguruan tinggi mampu?
1 Comment