Searching for CMS producing static files

       

I am still search for a Content Management System (CMS) that produces static (HTML) files. The reasons I want static files are:

  1. Security.
    I was bitten many times by CMS / CGI-based / other tools that produce
    dynamic HTML files. Sometimes the problem is due to the scripting
    language being used (PHP, perl), and other times it is due to the
    backend database (eg. MySQL).
  2. Performance. My server’s
    resources are usually limitted. For example, one of our servers is
    still using (GNU/Debian) Linux on a Pentium III. It was upgraded from
    Pentium II, though. Yes, I know that this is 2005. Although my current
    web server is Pentium 4. Generating dynamic pages on the fly may tax my
    server.
  3. I don’t really need dynamic pages. The contents of
    my pages are mostly articles, presentation files, PDF files, and the
    like. (Examples of my sites are: my main web site, web at campus, BHTV, ID-CERT, my Indonesia,
    and many more. Don’t laugh at the designs - or lack of.) I just have to
    build a nice themed index to these files. I don’t even need a search
    engine. Let Google or Yahoo works for me.

My
original plan is to create my pages on my desktop (or mobile) computer
and then publish the updated pages to my web server. I also want to
change the look-and-feel of the pages with a simple scheme. (Perhaps
with CSS?) Currently, I have to hand change all the pages. The result
is an inconsistent web pages.

My requirements:

  1. Produce static files
  2. Work on any platform (Linux, Mac OS X, MS Windows)
  3. Free (as in “gratis”)!
  4. Open Source / GPL (if possible)
  5. No databased backend required (if possible) [I like flat files]
  6. Has a variety of templates/themes (if possible)
  7. Has a simple learning curve (if possible)

I thought I found the solution when I found blosxom.
After trying it out, I is still not what I wanted. Blosxom is great for
blog-type web pages, but not so great with the type of web sites that I
am maintaining right now. I am still using blosxom for one of my blogs
though; budi.paume.itb.ac.id/blog.
One thing I like about blosxom is that it does not require a database
backend and it is written in perl (my favourite language). Without the
database requirement, I can work on any platform I am at (UNIX/Linux,
Mac OS X, MS Windows). If I can find a blosxom-like tool that is not
specific to blog, I would party!

Right now I am looking at Bricolage, TYPO3, and HTML::Template. (I have tried many many many CMS, and will continue trying. I am kind of partial to Drupal, but the learning curve is steep and it does not produce static files.)

So, I am still looking… If you have a suggestion, let me know.

Masih tentang kurang responsifnya mahasiswa

Dalam posting terdahulu saya mempermasalahkan
kurang responsifnya mahasiswa di kelas saya. Ternyata ini tidak terjadi
di kelas saya atau departemen saya saja, akan tetapi sudah mewabah ke
seluruh kampus. Ada seorang dosen di Departemen Planologi yang
mengatakan sebagai berikut:

Saya tanya "ada yang tidak mengerti?", tidak ada yang menjawab atau
mengacungkan tangan. Kemudian saya tanya "ada yang mengerti?", juga
tidak ada yang mengacungkan tangan. Jadi sebetulnya mengerti atau tidak?

Ada dosen lain yang mengatakan bahwa ketika dia masuk ke kelas, dia
dihadapkan dengan pandangan mata yang kosong. Menerawang. Dia
berpendapat bahwa sekarang mahasiswa inginnya serba instan.

Lepas dari itu semua, ternyata masalahnya lebih dalam lagi karena tidak
sekedar di kelas saya saja. Berarti ini masalah yang lebih besar! Aduh!

Mengenai soal slides power point, sebetulnya saya tidak menyukainya
karena slides tersebut seringkali gagal menjadi alat bantu. (Ada banyak
sudah yang membahas hal ini. Saya memiliki beberapa URL yang membahas
soal ini.) Dengan kata lain, sebaiknya mungkin tidak menggunakan slide
lagi.

Tapi, ada atau tidak ada slide power point, tetap perkuliahan hanya
membuat mahasiswa mendengar dan melihat. Ini tidak cukup! Saya ambil
kutipan dar A. S. Neil:

I hear and I forget;
I see and I remember;
I do and I understand

Jadi, saya berharap bahwa mahasiswa lebih banyak "DO". Melakukan.
Mengerjakan tugas. Praktek. Khususnya dalam kuliah pemrograman,
tentunya harus banyak DO-nya karena kalau tidak, hanya menjadi teori
semata. Padahal aspek skill juga tidak kalah pentingnya.

Praktek. Ini juga ternyata masalah karena institusi sehebat ITB pun
tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk programming. Di dalam kelas
saya saja ada sekitar 65 orang. Padahal ini kelas paralel - 4 kelas.
Jadi total kebutuhan komputer - hanya untuk kelas programming saya saja
- sudah mencapai 260 komputer!

Nah, lagi-lagi ini menjadi keluhan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa kita
terlalu cengeng, kalau saya bandingkan dengan mahasiswa di India dan
China. Mereka (mahasiswa di India dan China) lebih miskin lagi dan
fasilitas lebih tidak memadai. Tapi, toh mereka tetap menjadi world
class juga dengan jumlah yang tidak sedikit. Artinya kekurangan
fasilitas ini tidak membuat mereka gagal. Bahkan kekurangan ini lebih
memacu mereka.

Saya masih ingat ketika belajar komputer saya harus membeli majalah
bekas di jalan Cikapundung (di Bandung). Di sana banyak dijual majalah
bekas yang halaman depannya sudah digunting. Sekarang, di toko buku
sudah banyak majalah dan buku yang membahas masalah komputer. Kemudahan
ini mungkin malah membuat mahasiswa menjadi lebih manja lagi?

Saya melihat bahwa mahasiswa kita kurang memiliki "sense of urgency".
Tidak ada dorongan yang kuat. No passion. Mereka masih tidak melihat
adanya ancaman dari lulusan sekolah lain, khususnya lulusan dari luar
negeri. Mereka tidak tahu bahwa India menghasilkan 70 ribu lulusan yang
terkait dengan IT setiap tahunnya. Ya benar, 70000! Lulusan ITB yang
terkait dengan IT mungkin hanya 300-an setiap tahunnya. Dibutuhkan 200
ITB hanya untuk menghasilkan jumlah yang sama. Kita belum bicara
mengenai kualitas.

Sense of urgency ini perlu ditumbuhkan. Mahasiswa harus tahu
bahwa pekerjaan mereka bisa diambil oleh lulusan India! Serius!
Beberapa waktu yang lalu saya mendengar dari seorang kawan yang
mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan seorang lulusan perguruan tinggi
di India yang mau dibayar Rp 700 ribu sebagai programmer di Indonesia.
Mana ada lulusan kita yang mau dibayar segitu? Lebih jauh lagi,
kualitas lulusan India yang murah tersebut seringkali lebih bagus.
Perusahaan akan memilih orang India daripada orang setempat. Ini
penting!

Ayo kita lebih serius!

Buka Puasa Bersama di Indo IDC

Kemarin, hari Kamis 13 Oktober 2005, saya
berbuka puasa bersama kawan-kawan di gedung Cyber, Jakarta. Acara ini
dimotori oleh kawan-kawan di Indo IDC.

Saya datang terlambat karena ada macet yang sangat luar biasa macetnya.
Dari Slipi ke gedung Cyber membutuhkan waktu sekitar 2 jam! Padahal
biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar 20 sampai dengan 30 menitan.
Waktu yang saya pilih nampaknya tidak tepat, yaitu jam 16:30. Ini waktu
semua orang pulang karena ingin berbuka puasa di rumah. Akibatnya,
semua tumplek di jalan. Baru jam 18:30 saya sampai di acara. Sudah
lapar berat.

Banyak sekali yang datang di acara tersebut. Saya diberitahu bahwa anak-anak opisboy
yang mendominasi daftar hadir. Mereka ini yang mengurusi masalah teknis
di ISP di Indonesia. Sayangnya saya tidak kenal dengan sebagian besar
dari mereka. (Mungkin juga demikian sebaliknya.)

Acara tidak percuma karena good food, good friends. Inilah
nikmatnya punya banyak kawan. Saya kasihan kepada bos-bos di ISP
(pemilik ISP? CEO? Manager?) yang tidak diundang. (Anda tahu yang saya
maksud kan?) Mereka tidak bisa merasakan senangnya mengurusi Internet.
Jangan-jangan mereka nggak punya teman karena terlalu banyak
intrik-intriknya? Kasiman, eh … kasihan.

Saya menikmati acara itu. Kita makan-makan lagi yuk?

Pemahaman Akan Security

Tadi pagi, kelas kuliah saya (Keamanan Sistem Lanjut) saya minta untuk terjun ke lapangan dan menginterview (melakukan survey) terhadap orang (mahasiswa) yang mereka temui. Mereka diminta untuk memberikan pendapat tentang keamanan (security). Berikut ini beberapa temuan.

Yang pertama, kesempatan ini digunakan oleh mahasiswa untuk kenalan dengan mahasiswa lain. Jadi ada yang sengaja mencari mahasiswi dari jurusan lain. Untung nggak ada yang minta nomor HP mahasiswa dengan alasan ditanya dosennya.

Hasil dari interview ada beberapa hal yang berulang. Ketika ditanya masalah security yang muncul dalam benak mereka adalah: (1) Satpam, (2) password, (3) virus. Urutan tidak menentukan dominasi karena kami tidak membuat survey secara khusus. Ternyata keamanan fisik masih mendominasi. Itulah sebabnya muncul Satpam. Hal-hal lain yang juga sempat muncul adalah masalah hacking. Ternyata ada juga yang paham. Yang paham ini berpendapat bahwa hacking itu baik untuk meningkatkan keamanan. Nah, lho. Selain itu ada hal-hal lain seperti ada mahasiswa yang tidak terlalu peduli dengan passwordnya, silahkan kalau mau baca emailnya, dan seterusnya.

Kesimpulannya? Tidak ada yang bisa disimpulkan. Mungkin suatu saat akan saya ulangi survey ini dengan lebih terprogram dengan baik.

Menguji Tingkat Keamanan Algoritma Enkripsi

       

Ada beberapa orang yang
menanyakan kepada saya mengenai bagaiman mengukur tingkat keamanan
sebuah algoritma enkripsi. Pasalnya, mereka ingin menggunakan enkripsi
untuk mengamankan data di sistem mereka. Ada banyak pilihan algoritma.
Yang mana yang paling cocok untuk aplikasi mereka?

Panjang
kunci merupakan salah satu faktor. Semakin panjang kunci yang digunakan
semakin susah upaya pemecahan dengan menggunakan metoda brute force
(coba-coba). Akan tetapi seberapa panjang kunci yang pas untuk sebuah
aplikasi? Semakin panjang kunci, semakin banyak resources yang
dibutuhkan untuk melakukan enkripsi dan dekripsi.

Saya mulai
mengumpulkan beberapa makalah dan referensi yang terkait dengan hal
ini. Jika Anda menemukan artikel dan referensi yang berhubungan ini,
mohon diteruskan ke saya. Nanti saya rangkumkan dalam sebuah tulisan
(agar bermanfaat bagi orang lain yang akan membutuhkannya di kemudian
hari.

Mahasiswa Kurang Responsif?

       

Saya tidak tahu apakah saya
lebih tumpul dalam mengajar atau mahasiswa saya yang kurang berani
dalam bertanya. Dalam kuliah yang saya ajar kali ini, mahasiswa saya
terkesan lebih “loyo” daripada angkatan (kelas) sebelumnya. Kalau saya
tanya, mereka terkesan tidak antusias dalam menjawab (atau bingung).
Padahal pertanyaan yang mirip dalam kelas sebelumnya masih bisa dijawab.

Saya
tidak tahu apakah mereka tidak mengerti apa yang saya ajarkan atau
hanya malas / malu menjawab saja. Hal-hal yang saya tanyakan adalah hal
yang sederhana dalam pemrograman yang sepantasnya mudah mereka ketahui.
Paling tidak, hal tersebut diketahui oleh mahasiswa universitas lain
atau bahkan siswa SMK (STM) yang sedikit kursus pemrograman. Dugaan
saya adalah mereka bingung dengan apa yang saya tanyakan. Artinya ini
menyedihkan. Mereka tidak paham apa yang saya ajarkan. Waduh! Bagaimana
mereka akan kompetisi dengan saingan mereka (lulusan India, misalnya)?

Bagaimana
mengubah hal ini? Apakah teknik pengajaran saya perlu berubah? (Mungkin
mahasiswanya terlalu banyak disuapi sehingga malas berusaha sendiri?
Artinya saya harus lebih keras lagi terhadap mereka.) Atau memang
kualitas mahasiswa menurun? Apakah dosen lain merasakan hal ini?

Blogku down

Blog utama saya yang berbahasa Indonesia ada di rahard.modblog.com (sementara yang berbahasa Inggris ada di gbt.blogspot.com). Sudah beberapa hari ini modblog down dan belum tahu kapan bisa up lagi. Padahal, banyak tulisan saya di sana dan tidak saya backup. Hik hik hik. Apa boleh buat.
Mulai dari sekarang, saya mau melakukan posting di beberapa blog sekaligus saja.