Jurnalisme? Hanya menulis ulang pres rilis
Kemarin malam (Kamis, 24
November 2005) saya menghadiri acara penyerahan hadiah lomba penulisan
artikel telekomunikasi yang diselenggarakan oleh Exelcomindo (xl).
Dalam acara itu, para juri (Budiono [detik.com], Mas Wigrantoro, saya -
BR, Rudiantara, Eko Indrajit berhalangan hadir) terlibat dalam acara
talk show. Moderator talk show adalah Meutia. Topik yang dibahas adalah
seputar lomba penulisan tersebut.
Saya memberikan komentar
yang pedas dimana saya katakan bahwa tulisan-tulisan yang masuk banyak
yang buruk. Ada yang nampaknya hanya sekedar menulis ulang pres rilis
dari berbagai sumber. Jadi, yang disajikan itu hanya data saja. Sangat
kering.
Belum lagi ada beberapa yang datanya tidak akurat.
Mungkin ini disebabkan karena dia tidak mengerti apa yang dia tulis.
(Namanya juga sekedar menulis ulang pres rilis.) Atau, sang penulis ini
salah memahami makna dari sumber berita yang dikutip. Atau, bahkan dia
salah mengambil sumber informasi. Sembarang sumber dia gunakan dengan
label “pengamat.” Untuk yang terakhir ini sudah banyak debat di milis
mengenai nara sumber dari wartawan.
Saya mengatakan bahwa para wartawan / jurnalis ini tidak memiliki passion
dalam menulis. Ada tanggapan dari rekan wartawan / jurnalis bahwa ada
keterbatasan penulisan dalam pekerjaan mereka sehari-hari, seperti
adanya deadline, terbatasnya kolom, tuntutan dari redaksi, dan
seterusnya. Saya mengatakan bahwa mereka tidak bisa menggunakan alasan
tersebut. Apakah dengan alasan tersebut lantas kita bisa bangga dengan
tulisan yang ala kadarnya? Bagaimana nasih jurnalisme di Indonesia
kalau begitu?
Oh ya, yang menanggapi hanya sedikit. Saya
melihat muka-muka kuyu (capek kerja?) yang duduk menunggu makan malam.
Setelah makan malam mereka langsung pulang. Hibuaran yang disodorkan
oleh Iyet (penyanyi) pun tidak digubris oleh hadirin yang langsung
menyerbu tempat makan (maklum sudah telat, jam 8 malam). Kesimpulan
sementara, para wartawan / jurnalis ini sudah menjadi mesin. You, robot!
1 Comment