Mencintai pekerjaan
Saya menerima sebuah email di milis dengan topik "Love your job but never fall in love with your company." Tadinya saya berpikir bahwa yang akan dibicarakan adalah seputar jual beli perusahaan start-up. Ketika sebuah perusahaan start-up mulai besar, maka ada kemungkinan perusahaan tersebut dijual ke orang/perusahaan lain. Untuk itu kita jangan terlalu possesive terhadap perusahaan tersebut. Ini menjadi bagian dari kehidupan perusahaan. Jadi jangan terlalu jatuh cinta kepada perusahaannya, tapi jatuh cintalah kepada pekerjaannya.
Ternyata isi dari email tersebut berbeda. Isinya adalah kita harus bisa membagi waktu antara kehidupan di kantor dan kehidupan di luar kantor (di rumah). Jangan mau diperbudak oleh pekerjaan, asyik lembur, dan seterusnya. Jadi kehidupan harus seimbang. Itu ini dari pesan email yang saya terima.
Saya kemudian membayangkan Silicon Valley (dan tempat-tempat lain dimana orang sukses dalam membina perusahaannya). Di sana ternyata memang kehidupan tidak seimbang. Orang banyak yang tinggal di kantor. Mereka memang tidak terlalu jatuh cinta (attached) terhadap perusahaannya, akan tetapi mereka jatuh cinta kepada pekerjaannya. Kalau saya katakan jatuh cinta, mereka ini benar-benar jatuuuuhhh cinta. Komitmennya luar biasa kepada pekerjaan ini sehingga kehidupan di luar itulah yang harus menyesuaikan kepada pekerjaannya itu. Jadi ini bertentangan dengan pesan dari email di atas yang mengatakan bahwa hidup ini harus seimbang.
Ketika saya sempat mbambung (jalan-jalan) ke Silicon Valley dan tinggal di tempat beberapa teman, saya melihat bahwa kehidupan mereka memang di seputar tempat kerja. Jika mereka pulang ke rumah, di rumah juga tidak ada siapa-siapa karena mereka membujang. Paling nonton TV sendirian atau tidur. Atau kalau mau rame yang mengundang teman untuk pesta atau datang ke rumah teman untuk ngobrol (soal apa lagi kalau bukan soal pekerjaan?). Kehidupan lain adalah nonton film atau makan di luar. Jadi, daripada "nganggur" di rumah mereka lebih suka ke kantor saja. Di kantor ada yang bisa dikerjakan dan tidak membosankan.
Kita sering berteori ingin hidup sempurna. Pada kenyataannya tidak juga. Dalam ungkapan yang disampaikan di atas, kita harus mencintai pekerjaan kita tapi bukan perusahaan kita, ternyata tidak dieksekusi juga. Maksudnya ternyata kita tidak mencintai pekerjaan kita, apalagi mencintai perusahaan kita. Double negative!
Kebanyakan dari kita ke kantor hanya karena terpaksa. Kalau tidak ke kantor tidak gajian. Maka yang terjadi adalah Anda-Anda ke kantor hanya sekedar memenuhi prasyarat saja. Sekedar hadir secara fisik. Tidak ada motivasi untuk kerja lebih dari itu. Hasilnya? Ya, jelas pas-pasan. Yang begini mau bersaing dengan luar negeri? Ah, mimpi!
Saya masih ingat kata seorang kawan, "Why take a holiday if work is so much fun?"