Yang terbaru … menjadi (foto) model?

Kali ini mau cerita singkat saja. Eh, tapi ceritanya sudah ada di blog yang lain. Silahkan bagaimana ceritanya saya menjadi foto model.

Hah?!?! Model?

Ya, benar. Silahkan baca (dan lihat fotonya) di sini:
http://rahard.wordpress.com/2006/06/30/menjadi-foto-model/

Cerita Jalan Sudirman

Kemarin saya menjadi moderator di sebuah acara di Hotel Intercontinental Midplaza, yang berada di Jalan Sudirman, Jakarta. Setelah selesai acara tersebut seharusnya saya mengisi acara lain di Indosat Training Center, di Jatiluhur. Acara di sana jam 19:30, sementara acara di hotel selesai sekitar jam 16:30. Sempatlah. Check out dan sebagainya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Jam 17:00 saya sudah bisa berangkat ke Jatiluhur. Saya dijanjikan jemputan kendaraan jam 17:00.

Sebelum jam 17:00 saya sudah siap. Handphone bunyi. Ternyata dari supir mobil sewaan yang akan mengantar saya.
"Pak, saya sudah di jalan Sudirman. Hotelnya di sebelah mana."
Saya gagap, karena tidak begitu familier dengan Jakarta.
"Ya di Jalan Sudirman," kata saya sambil memikirkan ciri-ciri lain yang bisa dijadikan patokan.
"Wah di sebelah mana pak."
Entah kenapa terpikir gedung BNI. Saya bilang,
"Tahu BNI yang di jalan Sudirman kan? Sebelum BNI, ada jalan besar, belok ke kiri."
"Baik pak. Saya cari BNInya dulu"

Lima belas menit berlalu. Handphone bunyi lagi.
"Pak saya sudah di BNI. Sebelah mananya pak?"
Kali ini saya yang bingung. Hmm… mungkin dia berada di jalan Sudirman dari arah yang salah.
"Bapak ini dari arah mana? Menuju ke HI atau menuju ke Semanggi?"
Tiba-tiba dia terdiam.
"Bapak di Jakarta?"
"Iya," jawab saya. "Bapak dimana?"
"Bandung," jawabnya lirih.
HAH?!?!

Halah … yang menyediakan transportasi salah instruksi nih. Singkatnya saya tidak jadi memberikan presentasi di Jatiluhur.

La La La (Means I Love You)

Ah … daripada saya ulangi di sini, silahkan lihat curhat saya di sini:
http://rahard.wordpress.com/2006/06/25/la-la-la-means-i-love-you/

La la la …

Waktunya menilai tugas mahasiswa

Nggak hanya mahasiswa, ternyata dosen juga mengerjakan tugas pas di detik-detik terakhir. Minggu ini adalah minggu terakhir untuk memasukkan nilai. Maka, malam ini saya mau begadang untuk menyelesaikan nilai-nilai ujian dan tugas-tugas mahasiswa.

Sebetulnya pekerjaan ini bisa dilakukan jauh-jauh hari, tapi biasalah … ada saja kerjaan lain yang menyelinap dan mengambil prioritas. Akibatnya menilai pekerjaan menjadi terbengkalai.

Kalau mau gampang menilainya sih tinggal lemparkan tugas-tugas mahasiswa itu ke udara. Kalau dia terlentang (bagian depan / halaman pertama) di bagian atas, maka lulus. Kalau tugas telungkup, maka dia tidak lulus. Saya sih tidak seperti itu. Kalau saya … yang telungkup itu yang lulus sedangkan yang terlentang tidak. Ha ha ha. Guyon saja. Sadis amat kalau menilai dengan cara itu.

Guyonan lain mengatakan bahwa penilaian dapat dilakukan dengan melihat ketebalan tugas. Makin tebal tugasnya, makin besar nilainya. Justru kalau menurut saya sebaliknya. Semakin tipis, tapi langsung menjawab pertanyaan seharusnya nilainya yang lebih besar ya? Artinya dia bisa menjelaskan dengan efektif. Kalau yang menjelaskan dengan berlembar-lembar kertas, berarti dia tidak bisa menjelaskan dengan efektif (terlalu boros). Nilainya lebih kecil saja?

Tentu saja saya menilai dengan melihat isinya. Kalau untuk tugas-tugas reguler, saya biasanya meminta bantuan asisten untuk menilai. Semestinya sih lulus semua, kecuali memang yang tidak bisa ikut kuliah/ujian karena sakit … atau memang belum pantas lulus saja.

Nah … sekarang saya mau memeriksa soal dulu ya. Mudah-mudahan cepat selesai. Sudah ngantuk nih.

Ngopi lagi

Setelah cukup lama berhenti ngopi akhirnya saya kembali ngopi. Kayaknya dalam bulan ini sekali dalam seminggu saya ke Starbucks. Ngest kekuatan perut lagi. Ternyata okay. Sudah tidak sakit perut lagi. (Meski harus tetap dijaga.) Jadi saya berkesimpulan bahwa kopi tidak apa-apa terhadap maag saya. Ha ha ha. Kesimpulan yang tidak didasari dengan penelitian akan tetapi perasaan.

Kemarin ke Starbucks sebentar. Pergi ke Ciwalk, beli donat J.Co untuk anak-anak di rumah, mampir ke Starbucks untuk segelas latte. Sambil nyeruput latte mencoba menyelesaikan bukunya Dee, Filosofi Kopi (what an appropriate title). It felt great. Meskipun buku tipis, tidak selesai dibaca karena kopi sudah habis. Langsung pulang ke rumah saja dan makan donat dengan anak-anak.