Buku Tentang Beatles Revolver

Kabar baik bagi para penggemar musik Beatles. Ada ebook tentang album Beatles Revolver. eBook tersebut dapat diperoleh dari situs ini: http://www.revolverbook.co.uk/

Inilah asyiknya Internet. Banyak barang gratisan! Eh, jadi mengingatkan buku Membedah Classic Rock saya yang tidak kunjung selesai.

Anyway, selamat membaca buku-buku tersebut.

Tidak selesai nonton film

Lagi asyik-asyiknya nonton film (pakai DVD), eh … pada bagian akhirnya DVD-nya rusak. Padahal tinggal 5 atau 10 menit lagi filmnya selesai. SEBEL BANGET! Diutak-atik, tetap saja nggak jalan. Dicobain di komputer, tetap tidak jalan. Dicoba di komputer lain, sami mawon. Lha wong DVD-nya yang rusak. Bagaimana akhir ceritanya? Jadi nggak tahu! Tahu begini mendingan nggak nonton saja.

Pernah juga mengalami kejadian yang mirip. Waktu itu sedang naik kereta api dan filmnya menarik. Eh, pas sudah dekat ke bagian akhir kereta sampai ke tujuan. Film dihentikan. WAAAHHH… Kesal sekali. Mana nggak tahu judul filmnya. Kalau tahu begitu, mendingan tadi nggak nonton. Mendingan tidur saja. Kurang ajar betul itu film.

Ketinggalan sepatu olah raga

Saking buru-burunya mau sampai rumah, sepatu olah raga saya (yang tadi pagi dipakai untuk jogging di Bogor) ketinggalan di mobil antar jemput! Aduh! Padahal besok mau futsal. :(

Olah raga vs nge-blog

Kemarin sampai tadi malam memberikan presentasi di Hotel Salak Bogor. Nah, pagi ini ceritanya mau olah raga. Habis subuh turun ke bawah mencari fitness center. Eh ternyata belum buka. Kata orang di sini fitness center baru buka jam 7 pagi! Hah. Jam segitu saya sudah siap-siap untuk memberikan training lagi.

Akhirnya saya putuskan untuk lari-lari mengelilingi kolam renang yang kecil saja. Setelah beberapa menit (lumayan juga sih, mungkin ada 20 menitan?) saya putuskan untuk berhenti. Nggak seru. Untungnya saya bawa iPod nano sehingga larinya tadi masih agak semangat (ditemani lagu-lagu Asia yang nge-rock). Habis lagunya … nggak semangat. Kembali ke kamar saja ah. Nyalain notebook.

Akhirnya ya ngeblog ini … he he he. Antara olah raga vs nge-blog ternyata menang nge-blog. Wah pantesan saja banyak programmer / orang IT yang nggak bener kesehatannya ya.

Musik vs IT vs curhat

Saya lihat dari berbagai blog saya ada sesuatu yang menarik. Postingan yang paling banyak mengundang komentar adalah postingan seputar teknologi informasi dan curhat. Sementara postingan tentang musik jarang (bahkan lebih sering) tidak mendapat komentar.
Aneh bin ajaib …

Mungkin ini karena orang yang menggunakan internet memang lebih tertarik kepada dua hal tersebut. Ya sudah. Pokoknya tetap nekad posting tentang musik!

Love is like oxygene

Lagi bongkar-bongkar lagu lama, nemu lagu ini "Love is like Oxygene" yang dibawakan oleh group band Sweet. Lagu ini cukup ngetop di tahun 70-an. (He he he. I am THAT OLD! Saya SMP waktu itu.) Menarik juga judulnya ya. Berikut ini cuplikan liriknya

Love is like oxygenYou get too much you get too highNot enough and you're gonna dieLove gets you high

Whitesnake - Stupa connection

A Salute To Stupa

Dalam postingan terdahulu (tentang i-Rock! Second Out) saya bercerita terlalu singkat tentang band Stupa. Ini band Indonesia lho. Mungkin Stupa bisa dibilang home band dari i-Rock! dan yang terbaik dalam acara kemarin.

Satu hal yang masih terngiang-ngiang dari acara i-Rock! Second Out itu adalah lagu "Still of the Night" yang mereka bawakan. Suara sang vokalis (Roel) bisa menirukan suara David Coverdale. Bagi yang pernah mencoba meniru Coverdale, bisa merasakan betapa sulitnya. David Coverdale bisa dikatakan "singer’s singer". Dia merupakan salah satu contoh penyanyi rock dengan suara yang terbaik, tidak sekedar teriak, tapi MEMANG BAGUS! Suaranya sangat bersih dan powerful. Nah, powerfull tanpa meleset ini yang susah. Dalam acara i-Rock! Second Out tersebut saya melihat bahwa Syahrul bisa mencapai itu. Acungan jempol.

Tapi yang membuat saya teringat terus dengan lagu itu adalah gitaran dari gitaris Stupa: Epi. You rock, man! Suara gitarannya bersih dan lick-nya seperti aslinya. Mungkin  bisa main di Whitesnake! Suatu saat saya ingin buat lagu rock original dan melodinya dimainin oleh Epi. Ha ha ha. Entah kenapa waktu acara kemarin saya ingin Stupa membawakan lagu Walk This Way nya Aerosmith. Sebetulnya sih saya ingin dengar dan liat Epi main gitar lagu itu. Kayaknya asyik juga. Maksudnya enjoy maininnya.

Gara-gara Stupa saya membersihkan koleksi Whitesnake lagi. Whitesnake - Stupa connection.  ha ha ha. Kemarin nemu DVD "Whitesnake Live, In the Still of the Night" yang berisi live show mereka di London (tahunnya nggak tahu). Ah, what a joy. Energi pagi ini; Burn kemudian Still of the Night

i-Rock! Second Out

i-Rock! Second Out

Irock
Tanggal 14 Juli 2006, i-Rock! Second Out digelar di Romeo
Café yang berada di kawasan SCBD Jakarta. Setelah sebelumnya hanya bisa ngiri
melihat acara-acara pertemuan sebelumnya, maka kali ini saya menyempatkan untuk
datang. Seperti dapat disimpulkan dari kata “Second Out,” acara ini adalah acara jam
session yang kedua kalinya. (Tulisan Second Out menggunakan font seperti pada album Genesis, Second Out.) Sayangnya lightingnya nggak sama dengan second out. Hua ha ha.

Tanggal 14 Juli itu hari Jum’at. Tadinya saya punya meeting
di Jakarta hari Kamis, tapi saya geser ke hari Jum’at sehingga saya bisa
berangkat dari Bandung hari Jum’at pagi dan menginap malamnya. Kalau meeting tetap hari Kamis berarti
saya harus pulang pergi Jakarta Bandung dua kali. Maklum, saya tinggal di Bandun tapi pekerjaan banyak di Jakarta. Untungnya meeting bisa digeser
menjadi Jum’at pagi. (Kalau saya sebutkan instansi yang saya geserkan meetingnya hanya karena i-Rock! mungkin mereka akan marah. ha ha ha. I won’t tell.)

Masih ada satu masalah lagi. Sabtu pagi, jam 8, saya
berencana untuk bermain futsal seperti minggu sebelumnya. Jika saya menginap di
Jakarta hari Jum’at malam, artinya saya harus ke Bandung hari
Sabtu pagi. Untuk mengejar jam 8 pagi tersebut saya harus naik pesawat Deraya.

Wah, biaya untuk nonton i-Rock! Second Out ini ternyata
harus ditambah ongkos pesawat Bandung Jakarta pulang pergi sebesar Rp 500 ribu. Tiket masuk Rp 50 ribu (pas). Jadi kalau ditotal-total, pengeluaran untuk nonton i-Rock! Second Out ini seperti nonton konser band rock dari luar negeri saja. Tak apalah.
Sekali-sekali.

Irocksticker

Jam 8 acara dimulai. Mas Gatot Widayanto membuka acara dan langsung
band pertama, Tundra, muncul. Mas Gatot ini merupakan glue dari komunitas ini. Tanpa dia, saya rasa sukar menghidupkan malam dan kumpulan i-Rock!. Maklum, saya masih outsider dalam kelompok ini. Tidak kenal siapa-sapa. Jadi harus ada orang yang merupakan perekat (glue) dari ini semua. Thank you to mas Gatot! Kelihatannya masih ada kelompok-kelompok. Belum menyatu euy. (Reportase tentang acara ini dari mas Gatot ada di sini.)

Band Tundra ini memiliki genre power rock. Saya sendiri
bukan penggemar genre itu, sehingga tidak terlalu memahami. Suara gitarnya
terlalu digeber, tidak ada harmoni. Sebetulnya salah satu gitarisnya (ada dua
gitaris di band ini) – yang rambutnya pendek sehingga digangguin tidak cocok
dengan musik rock – memiliki petikan yang bisa diarahkan menuju Steve Rothery
(gitaris Marillion). Yang menarik dari band ini adalah vokalisnya, Troy. Menurut saya, dari
semua vokalis malam itu dia yang memiliki vokal terbaik.

Band kedua yang tampil adalah De Jalu. Aliran musik mereka
adalah alternative rock. Mereka juga tampil lumayan. Hanya pada awalnya salah
satu gitar mereka (ada dua gitaris juga) kurang keluar bunyinya, sementara yang
satunya terlalu keras menurut saya. Akibat terlalu kerasnya suara gitar
tersebut maka suara vokalnya ketimpa (kurang terdengar). Yang paling bagus dari
band De Jalu ini adalah drummernya, yang terbaik malam itu. Drummernya orangnya
kecil tapi pukulannya dan beatnya mantap, terlebih lagi dia sangat antusias
sekali sehingga enak ditonton dan didengar. Drummer-drummer lain malam itu
terlihat biasa-biasa saja (tidak memiliki stage act). Sayangnya suara bass
kurang keras. Kalau suaranya lebih keras sedikit lagi maka beatnya lebih asyik
lagi.

Di akhir band De Jalu ini mas Gatot memanggil saya untuk
maju ke depan dan memberikan komentar. Seperti Simon Cowell di American Idol yang selalu memberikan kritik pedas,
saya maju dan memberi komentar saya (seperti yang ditulis di atas).
Mudah-mudahan De Jalu makin maju.

Selain mengkritik De Jalu saya juga berharap agar ada musik yang lebih romatis (claro). Not happening that night. Maklum, salah crowd. ha ha ha. Katanya tanggal 28 Juli 2006 yang prog night. Mas Gatot menawarkan saya apakah mau main? Saya jawab tidak (meskipun ingin). Soalnya beda crowdnya. Saya juga sudah lama tidak main gitar. Inginnya sih main sedikit gitar klasik (potongan Yes, Genesis). Hmm… coba saja ada pak Dimitri. Mungkin saya dan pak Dimitri nekad mainkan Firth of Fifth-nya Genesis. Ha ha ha. (Kami sering mainkan lagu ini kalau lagi rapat di Grha Haidara Bandung.)

Kemudian ada acara jam session i-Rock pertama. Secara
serabutan diambil orang-orang dari audience yang kemudian main bersama. Tentu
saja cara ini tidak maksimal. Hasilnya adalah musik yang biasa-biasa saja, atau
malah cenderung agak kacau di bagian akhir dari lagu yaitu nggak tahu kapan dan
bagaimana berhentinya lagu. Ha ha ha. Tentu saja harus dimaklumi karena mereka
tidak pernah latihan bersama. Normal dong. Yang menarik bagi saya adalah pemain-pemain yang mau saja dipanggil untuk manggung itu, sebut saja Fadil (keyboard Discus) [untuk Fadil, I want to talk to you and discuss. he he he].

Setelah itu ada band apa ya? Saya lupa namanya. Rocks Devil?
Yah biasa-biasa saja lah. Sebetulnya mereka bisa lebih bagus tapi maklum mereka baru ngumpul tahun 2006 ini. Beri mereka sedikit waktu lagi. Gitaris solonya lumayan. Menurut saya, dia seharusnya ikut ke gaya bermain Roine Stolt (gitaris The Flower Kings, Transatlantic) karena sukanya main wahwah. Ha ha ha. Dasar penggemar Roine Stolt ya.

Band berikutnya adalah Octavarium. Melihat namanya kita
sudah tahu bahwa band ini mengusung musik Dream Theater. Octavarium adalah nama
album terakhir dari Dream Theater. Musiknya oke akan tetapi vokalis mereka (dua
orang), kurang sip. Bahkan salah satunya cenderung sangat datar. Kalau kata
Simon Cowell dari American Idol, suaranya seperti “bad karaoke”. Yang lainnya, gitarnya oke.

Setelah itu ada i-Rock! All Stars yang membawakan musik
lebih lebut. Pemain dari band ini adalah inisiator dari kumpulan i-Rock (Rustam
dan kawan-kawan). Kalau dibandingkan dengan anak-anak muda sebelumnya mereka
kalah bagus. Lagi-lagi karena memang mereka tidak latihan serius.

Di tengah-tengah acara ada kuis dan hadiah yang beragam, mulai dari kaos sampai CD. Kebetulan salah satu pertanyaan yang diajukan adalah potongan musik yang saya kenal, yaitu musiknya Harry Roesli dari album Ken Arok. Maklum, saya dulu SMA-nya di SMA 1 Bandung yang notabene vokal groupnya latihan di rumah Harry Roesli. Jadi saya hafal sound dari rekaman Harry Roesli (agak cempreng, he he he). Kelihatannya di ruangan itu yang tahu album Ken Arok hanya saya dan Garin Ganis (kawan yang saja racuni untuk datang ke acara ini, he he he). Kayaknya kita ini tua ya?

Hadiah dari menangnya kuis ini adalah CD "Frances the Mute" yang belum sempat saya setel. Asik juga. Selain itu tentunya saya juga beli kaos i-Rock! seharga Rp 60 ribu. Cukuplah oleh-oleh dari acara ini.

Band terakhir adalah Stupa. Band ini merupakan kumpulan
rocker lama juga. Dari semua band, secara musik, band ini yang terbaik malam itu! Yang
paling hebat adalah gitarisnya, Epi, yang merupakan eks gitaris Makara dahulu.
Mereka membawakan lagu Photograph (Def Leppard), (In the )still of the night
(Whitesnake), Beth (Kiss), dan ditutup dengan Rock and Roll (Led Zeppelin).
Suara vokalnya (dua orang) memang mirip vokalis band-band itu. Tapi yang paling
hebat adalah gitarisnya karena tampil prima persis seperti aslinya. Tidak
menyesal menunggu band ini.

Jam 00:30 acara selesai. Saya pulang diantar Garin. Sampai
di apartemen jam 1 pagi. Tidur mungkin baru jam 2 pagi. Sementara itu jam 4:30
pagi saya sudah harus bangun untuk Subuh dan siap-siap kembali ke Bandung. Jam 7 pagi naik
pesawat Deraya. Jam 8:15 saya sudah di lapangan futsal Plasa Parahyangan untuk
bermain futsal. Capek? Jelas. Kurang tidur? Jelas. Tapi puas! Perjuangan demi
i-Rock! Keep on Rockin’

Moonlight Desires

Hampir setiap pagi saya mulai hari dengan lagu (setelah kadang mendengarkan Aa Gym di MQ). Biasanya hal ini saya tulisakan di blog saya yang di blogsome. Kali ini saya mau coba tulis di blog friendster saja.

Lagu untuk pagi ini adalah "Moonlight Desires" dari Gowan.

Wah. Kok pagi-pagi mendengarkan lagu tentang moonlight yang seharusnya untuk malam hari. Kan pagi hari tidak ada bulan. Tapi tidak apa-apa kan? Lagu ini masuk ke kategori rock (pop rock? classic rock?) Bagi anda penggemar band Yes atau Jon Anderson pasti Anda akan suka lagu ini karena di belakang suara Gowan ada suara Jon Anderson yang melayang-layang dan menyihir. Cocok untuk lagu yang mencoba menyihir kita.

You’ve Got Ways
To Take Hold Of My Thoughts
Over-Riding My Senses
Lock Your Sights
Dead In Line With My Heart
Share Your Powers
You Stir My Soul
And Whet My Hunger
And Weave That Spell
That Pulls Me Under

These Moonlight Desires
Haunt Me
They Want Me, They Want Me

Terkesima … tersihir! Something about this moonlight. Good thing it’s already morning. Otherwise, I don’t know what’s going to happen to me.

Olah raga dengan musik symphony

Tadi pagi mau jogging, tapi sudah terlambat lagi! Di luar sudah panas. Jadi akhirnya saya putuskan untuk jalan di atas threadmill saja karena bisa di lakukan di rumah. Hey, saya bisa melakukannya di den yang baru.

Nah, hiburan apa yang bisa membuat olah raga ini menjadi menyenangkan? Harus ada suara musik atau sambil nonton (TV, video). Saya putuskan untuk gabungan saja, video musik. Mau tahu apa yang saya pilih? Video (DVD) "Yes Symphonic Live" ha ha ha.

Bagi pembaca yang belum paham, Yes itu adalah group musik classic rock atau progressive rock yang musiknya sulit dicerna bagi banyak orang (tapi menarik bagi sebagain orang lainnya lagi). Musiknya tentu saja tidak memiliki beat yang cocok untuk lari ataupun olah raga. Terlebih lagi DVD yang saya pilih ini justru mengetengahkan lagu-lagu Yes yang bercorak symphoni. Ya, ada orkestra besarnya!

Tadinya saya takut menjadi loyo olahraganya. Katanya kita biasanya mengikuti beat dari musik yang kita dengarkan. Kenyataannya tidak! Saya bisa berolahraga (jalan / jog) di threadmill dengan ditemani lagu dari Yes, yaitu Close To The Edge.

I am a little sweaty, but typing this blog entry anyway. This is the nicest thing to have an Internet access at home. Phew … I’ve got to take a shower and do some work.

Next Page »