Posted by rahard on July 16th 2006 to
Music i-Rock! Second Out

Tanggal 14 Juli 2006, i-Rock! Second Out digelar di Romeo
Café yang berada di kawasan SCBD Jakarta. Setelah sebelumnya hanya bisa ngiri
melihat acara-acara pertemuan sebelumnya, maka kali ini saya menyempatkan untuk
datang. Seperti dapat disimpulkan dari kata “Second Out,” acara ini adalah acara jam
session yang kedua kalinya. (Tulisan Second Out menggunakan font seperti pada album Genesis, Second Out.) Sayangnya lightingnya nggak sama dengan second out. Hua ha ha.
Tanggal 14 Juli itu hari Jum’at. Tadinya saya punya meeting
di Jakarta hari Kamis, tapi saya geser ke hari Jum’at sehingga saya bisa
berangkat dari Bandung hari Jum’at pagi dan menginap malamnya. Kalau meeting tetap hari Kamis berarti
saya harus pulang pergi Jakarta Bandung dua kali. Maklum, saya tinggal di Bandun tapi pekerjaan banyak di Jakarta. Untungnya meeting bisa digeser
menjadi Jum’at pagi. (Kalau saya sebutkan instansi yang saya geserkan meetingnya hanya karena i-Rock! mungkin mereka akan marah. ha ha ha. I won’t tell.)
Masih ada satu masalah lagi. Sabtu pagi, jam 8, saya
berencana untuk bermain futsal seperti minggu sebelumnya. Jika saya menginap di
Jakarta hari Jum’at malam, artinya saya harus ke Bandung hari
Sabtu pagi. Untuk mengejar jam 8 pagi tersebut saya harus naik pesawat Deraya.
Wah, biaya untuk nonton i-Rock! Second Out ini ternyata
harus ditambah ongkos pesawat Bandung Jakarta pulang pergi sebesar Rp 500 ribu. Tiket masuk Rp 50 ribu (pas). Jadi kalau ditotal-total, pengeluaran untuk nonton i-Rock! Second Out ini seperti nonton konser band rock dari luar negeri saja. Tak apalah.
Sekali-sekali.
—
Jam 8 acara dimulai. Mas Gatot Widayanto membuka acara dan langsung
band pertama, Tundra, muncul. Mas Gatot ini merupakan glue dari komunitas ini. Tanpa dia, saya rasa sukar menghidupkan malam dan kumpulan i-Rock!. Maklum, saya masih outsider dalam kelompok ini. Tidak kenal siapa-sapa. Jadi harus ada orang yang merupakan perekat (glue) dari ini semua. Thank you to mas Gatot! Kelihatannya masih ada kelompok-kelompok. Belum menyatu euy. (Reportase tentang acara ini dari mas Gatot ada di sini.)
—
Band Tundra ini memiliki genre power rock. Saya sendiri
bukan penggemar genre itu, sehingga tidak terlalu memahami. Suara gitarnya
terlalu digeber, tidak ada harmoni. Sebetulnya salah satu gitarisnya (ada dua
gitaris di band ini) – yang rambutnya pendek sehingga digangguin tidak cocok
dengan musik rock – memiliki petikan yang bisa diarahkan menuju Steve Rothery
(gitaris Marillion). Yang menarik dari band ini adalah vokalisnya, Troy. Menurut saya, dari
semua vokalis malam itu dia yang memiliki vokal terbaik.
—
Band kedua yang tampil adalah De Jalu. Aliran musik mereka
adalah alternative rock. Mereka juga tampil lumayan. Hanya pada awalnya salah
satu gitar mereka (ada dua gitaris juga) kurang keluar bunyinya, sementara yang
satunya terlalu keras menurut saya. Akibat terlalu kerasnya suara gitar
tersebut maka suara vokalnya ketimpa (kurang terdengar). Yang paling bagus dari
band De Jalu ini adalah drummernya, yang terbaik malam itu. Drummernya orangnya
kecil tapi pukulannya dan beatnya mantap, terlebih lagi dia sangat antusias
sekali sehingga enak ditonton dan didengar. Drummer-drummer lain malam itu
terlihat biasa-biasa saja (tidak memiliki stage act). Sayangnya suara bass
kurang keras. Kalau suaranya lebih keras sedikit lagi maka beatnya lebih asyik
lagi.
Di akhir band De Jalu ini mas Gatot memanggil saya untuk
maju ke depan dan memberikan komentar. Seperti Simon Cowell di American Idol yang selalu memberikan kritik pedas,
saya maju dan memberi komentar saya (seperti yang ditulis di atas).
Mudah-mudahan De Jalu makin maju.
Selain mengkritik De Jalu saya juga berharap agar ada musik yang lebih romatis (claro). Not happening that night. Maklum, salah crowd. ha ha ha. Katanya tanggal 28 Juli 2006 yang prog night. Mas Gatot menawarkan saya apakah mau main? Saya jawab tidak (meskipun ingin). Soalnya beda crowdnya. Saya juga sudah lama tidak main gitar. Inginnya sih main sedikit gitar klasik (potongan Yes, Genesis). Hmm… coba saja ada pak Dimitri. Mungkin saya dan pak Dimitri nekad mainkan Firth of Fifth-nya Genesis. Ha ha ha. (Kami sering mainkan lagu ini kalau lagi rapat di Grha Haidara Bandung.)
—
Kemudian ada acara jam session i-Rock pertama. Secara
serabutan diambil orang-orang dari audience yang kemudian main bersama. Tentu
saja cara ini tidak maksimal. Hasilnya adalah musik yang biasa-biasa saja, atau
malah cenderung agak kacau di bagian akhir dari lagu yaitu nggak tahu kapan dan
bagaimana berhentinya lagu. Ha ha ha. Tentu saja harus dimaklumi karena mereka
tidak pernah latihan bersama. Normal dong. Yang menarik bagi saya adalah pemain-pemain yang mau saja dipanggil untuk manggung itu, sebut saja Fadil (keyboard Discus) [untuk Fadil, I want to talk to you and discuss. he he he].
—
Setelah itu ada band apa ya? Saya lupa namanya. Rocks Devil?
Yah biasa-biasa saja lah. Sebetulnya mereka bisa lebih bagus tapi maklum mereka baru ngumpul tahun 2006 ini. Beri mereka sedikit waktu lagi. Gitaris solonya lumayan. Menurut saya, dia seharusnya ikut ke gaya bermain Roine Stolt (gitaris The Flower Kings, Transatlantic) karena sukanya main wahwah. Ha ha ha. Dasar penggemar Roine Stolt ya.
—
Band berikutnya adalah Octavarium. Melihat namanya kita
sudah tahu bahwa band ini mengusung musik Dream Theater. Octavarium adalah nama
album terakhir dari Dream Theater. Musiknya oke akan tetapi vokalis mereka (dua
orang), kurang sip. Bahkan salah satunya cenderung sangat datar. Kalau kata
Simon Cowell dari American Idol, suaranya seperti “bad karaoke”. Yang lainnya, gitarnya oke.
—
Setelah itu ada i-Rock! All Stars yang membawakan musik
lebih lebut. Pemain dari band ini adalah inisiator dari kumpulan i-Rock (Rustam
dan kawan-kawan). Kalau dibandingkan dengan anak-anak muda sebelumnya mereka
kalah bagus. Lagi-lagi karena memang mereka tidak latihan serius.
—
Di tengah-tengah acara ada kuis dan hadiah yang beragam, mulai dari kaos sampai CD. Kebetulan salah satu pertanyaan yang diajukan adalah potongan musik yang saya kenal, yaitu musiknya Harry Roesli dari album Ken Arok. Maklum, saya dulu SMA-nya di SMA 1 Bandung yang notabene vokal groupnya latihan di rumah Harry Roesli. Jadi saya hafal sound dari rekaman Harry Roesli (agak cempreng, he he he). Kelihatannya di ruangan itu yang tahu album Ken Arok hanya saya dan Garin Ganis (kawan yang saja racuni untuk datang ke acara ini, he he he). Kayaknya kita ini tua ya?
Hadiah dari menangnya kuis ini adalah CD "Frances the Mute" yang belum sempat saya setel. Asik juga. Selain itu tentunya saya juga beli kaos i-Rock! seharga Rp 60 ribu. Cukuplah oleh-oleh dari acara ini.
—
Band terakhir adalah Stupa. Band ini merupakan kumpulan
rocker lama juga. Dari semua band, secara musik, band ini yang terbaik malam itu! Yang
paling hebat adalah gitarisnya, Epi, yang merupakan eks gitaris Makara dahulu.
Mereka membawakan lagu Photograph (Def Leppard), (In the )still of the night
(Whitesnake), Beth (Kiss), dan ditutup dengan Rock and Roll (Led Zeppelin).
Suara vokalnya (dua orang) memang mirip vokalis band-band itu. Tapi yang paling
hebat adalah gitarisnya karena tampil prima persis seperti aslinya. Tidak
menyesal menunggu band ini.
—
Jam 00:30 acara selesai. Saya pulang diantar Garin. Sampai
di apartemen jam 1 pagi. Tidur mungkin baru jam 2 pagi. Sementara itu jam 4:30
pagi saya sudah harus bangun untuk Subuh dan siap-siap kembali ke Bandung. Jam 7 pagi naik
pesawat Deraya. Jam 8:15 saya sudah di lapangan futsal Plasa Parahyangan untuk
bermain futsal. Capek? Jelas. Kurang tidur? Jelas. Tapi puas! Perjuangan demi
i-Rock! Keep on Rockin’