Kacaunya Pengelolaan Futsal Parahyangan Plaza Bandung

Setiap Sabtu kami bermain futsal. Tim kami berisi mahasiswa ITB,
UNPAD, Maranatha, dan saya sendiri yang dosen ITB. (Kebanyakan penulis
blog juga!) Kami mem-booking lapangan futsal di Parahyangan Plaza,
Alun-Alun, Bandung. Biasanya kami puas dengan layanan di sana. Namun
kemarin, ternyata saya kecewa berat.

Sabtu tanggal 9 Desember 2006 kemarin saya
datang ke lapangan sebelum jam 7 pagi karena kami telah menyewa
lapangan dari jam 7 sampai jam 8. Namun pas sampai di sana ternyata di
lapangan sudah banyak orang, termasuk lapangan A yang seharusnya kami
gunakan.

Ternyata pengelola lapangan melakukan double booking! Pada hari yang
sama mereka memberikan lapangan tersebut kepada orang lain, yang
kebetulan adalah tim dari BRI yang sedang mengadakan pertandingan.
Mereka membooking kedua lapangan (lapangan A dan B). Tentu saja saya
protes. Setelah mereka cek, memang ternyata ada bukti pembayaran dari
kami (seminggu sebelumnya).

Petugas di sana tampak bingung. Anak-anak pemain futsal tim saya
juga sudah tidak sabar. Ada sekitar 17 orang pemain saya. Untungnya
anak-anak saya ini tidak panasan dan menunggu. Setelah menunggu tidak
ada penyelesaian dari pihak pengelola. Saya menghubungi tim dari BRI
yang sedang main. Kepala tim di sana berembug dan mengatakan bahwa
mereka juga telah membooking sebelumnya. Lagian mereka datang dari luar
kota untuk pertandingan ini.

Saya tidak ingin ribut dan memahami bahwa ini menyangkut nama baik
dari Pengelola Futsal Parahyangan Plaza. Kalau mau, sebetulnya kami
bisa merongrong dan menuntut masuk ke lapangan. Tapi apa manfaatnya?
Mungkin hanya menjatuhkan nama baik pengelola saja. Jadi bagaimana?

Pengelola mengusulkan agar lapangan kami diganti di lantai 2 saja.
Hah!@! Yang benar saja. Lapangan di lantai 2 itu memiliki ukuran yang
tidak standar, alias kecil. Lebarnya hanya setengah dari lapangan
sesungguhnya. Jadi dia lebih mirip seperti lorong dimana di ujungnya
ada goal (yang kecil juga ukurannya). Tentu saja saya menolak kalau
diganti dengan lapangan itu. Lah saya membayar untuk lapangan besar kok
diberi lapangan kecil.

Bayangkan. Jika Anda pergi naik kereta api dan membeli tiket
eksklusif, kemudian ternyata penyedia jasa melakukan double booking,
dan Anda diminta untuk pindah ke kereta bisnis saja. Apakah ini masuk
akal? Menurut saya tidak masuk akal.

Jam sudah menunjukkan pukul 7:30 dan beberapa pemain tidak bisa
lebih dari jam 8 pagi. Akhirnya saya katakan kepada pengelola, begini
saja. Kami main di lapangan lantai 2 yang sudah kecil karena anak-anak
sudah datang pagi-pagi (dari tempat yang berbeda-beda dan jauh-jauh
juga sebetulnya) dan mulai resah. Daripada kecewa dan malah anarkis
lebih baik saya putuskan untuk memindahkan energi itu ke olah raga
saja. Nanti kita bicarakan soal kompensasi, kata saya. Dia setuju. Kami
pun turun ke lantai dua yang masih gelap karena belum dibuka.

Sekitar pukul 8:30 saya naik kembali dan menanyakan kepada pengelola
apakah sudah ada keputusan. Ternyata dia mengatakan tidak bisa apa-apa.
Saya paham karena dia hanya petugas yang tidak memiliki kewenangan.
Kemudian saya minta dia untuk menelepon kepada atasannya (managernya?
yang sayangnya tidak saya ketahui namanya). Kepada atasannya saya
menanyakan bagaimana kompensasi yang bisa kami terima. Dia mengatakan
bahwa kompensasi yang bisa diberikan adalah ya tadi itu, main di lantai
2. Hah?@! Saya tidak habis berpikir. Saya mencoba reasoning dengan dia,
namun dia tidak mengerti. Rasanya sudah tidak mungkin berdiskusi dengan
sang manager. Saya katakan baiklah, nanti akan saya komplain melalui
surat kabar saja.

Saya katakan kepada penjaga setempat dan satpam bahwa kalau saya
manager tempat tersebut saya akan lebih baik dalam melayani pelanggan.
Untuk kasus seperti ini sangat mudah solusinya, tawarkan saja bermain
gratis dua kali, misalnya. Pelanggan pun akan menerima ini. Bagi sang
pelanggan bukan soal uangnya, akan tetapi sikap serving customer
yang penting. Sewa lapangan hanya Rp 80 ribu. Dua kali main hanya Rp
160 ribu. Dengan hanya uang sebesar itu dia dapat menjaga kepuasan
pelanggannya. Bagi kami pun bukan masalah uangnya akan tetapi perasaan
bahwa kami didzalimi. Sayang sekali sifat service tidak ada. Inilah
yang buruk dari penyedia layanan di Indonesia. Sebagai catatan, penjaga
fasilitas dan satpam di sana melayani saya dengan sopan. Saya mengerti
bahwa mereka pada posisi yang terjepit dan saya tidak ingin menyudutkan
mereka. Namun sayang sekali penangung jawab bisnisnya tidak dapat
melihat dari sekedar uang Rp 80 ribu atau Rp 160 ribu saja. Dia lebih
merelakan pelanggan tidak puas. Ah sayang sekali.

Demikian keluhan saya sebagai pelanggan fasilitas Futsal di
Parahyangan Plaza. Jika Anda menjadi pelanggan di sana, siapkan tanda
bukti dan mungkin siap-siap ada double booking yang merugikan Anda.
Untuk pengelola, mudah-mudahan suatu saat Anda mendapat ganjaran untuk
berada di posisi seperti kami, yaitu mendapatkan double booking (entah
di kereta api atau layanan lain) dan kemudian tidak mendapatkan solusi
yang baik. Mudah-mudahan Anda bisa merasakan betapa kecewanya dan
mudah-mudahan Anda bisa menjadi lebih baik.

Ada tempat futsal lain yang bagus di Bandung?

Nolak ngopi

Jarang-jarang saya nolak ngopi. Kalau nggak sakit perut, biasanya saya okey saja dengan ngopi. Nah, kemarin saya diajak ngopi oleh Kuncoro. Dia diajakin ngopi oleh Budi Putra. Kemarin mereka ada acara Blog Fun Day yang diisi oleh mereka, plus Amal dan Rendy.

Masalahnya, hari Sabtu adalah hari saya mengadakan pertemuan dengan tim / staff. Pada hari ini biasanya kami ngumpul dan membicarakan kemajuan pekerjaan atau proyek. Pertemuan ini bisa sampai sore atau malam. Kemarin, sesudah maghrib saya merasa capek sekali. Jadi waktu diajakin ngopi jam 8-an malam, saya sudah teler. Terpaksa nolak deh. hik hik hik. Kopi… kopi … kopi.

Empat puluh menitan setelah itu saya sudah tertidur (dan bangun pagi sekali, sebelum jam 4 untuk nulis blog - ha ha ha). Perut rada rewel nih. Mudah-mudahan ok karena saya berniat ngopi hari ini.

Menuju 256 bit

Sekarang saya mulai mengkonversikan MP3 saya ke resolusi yang lebih tinggi, yaitu 256 bit. Tujuannya adalah agar suaranya lebih mendekati audio CD aslinya. Tentu saja yang bisa saya konversikan ke 256 bit adalah CD-CD audio yang saya miliki. Untuk berkas (lagu) yang sudah dalam format MP3 dan tidak saya miliki CD aslinya terpaksa tidak bisa saya apa-apakan :(

Resolusi yang lebih tinggi ini tentunya akan membuat harddisk saya menjadi lebih cepat penuh. Demikian pula iPod saya mungkin akan berkurang jumlah lagunya. Nggak apa-apa. Sekarang saya mau kualitas, bukan kuantitas.

Ada yang melakukan seperti ini juga?