Yuk kita berkarya di Internet

Saya lihat banyak di antara kita yang menggunakan Internet hanya untuk chatting dan browsing saja (plus baca email). Bagaimana kalau kita juga menghasilkan karya?

Maksudnya menghasilkan karya itu nggak harus yang hebat dan heboh. Contohnya, membuat gambar-gambar digital (pakai Gimp, Photoshop, atau apa pun), membuat cerita (puisi, cerpen, novel, dongeng anak-anak), membuat lagu, membuat soal-soal pelajaran yang bisa dibagi ke kawan-kawan, dan masih banyak lagi. Membuat 1 soal matematika kan nggak susah. Yang susah kan menjawabnya … ha ha ha.

Jadi … kalian bisa tunjukkan ke ortu kalian bahwa Internet itu bermanfaat. Jadi kalau mereka mau ngelarang, pikir-pikir dulu. he he he. Kok ngajarin kayak gini ya? Biarin. Toh produktif. Siapa tahu kalian jadi terkenal karena karya kalian itu.

Tergila-gila dengan lagu

Kalau saya sedang suka satu lagu, biasanya saya putar berulang-ulang. Nah, kalau sudah begini … anak saya yang protes. Boston … eh bosen, katanya. He he he. Tapi, gimana lagi. Lagi suka…

Kebiasaan ini rasanya nggak aneh. Kalian kan juga begitu. Ya nggak?

Lagu yang sedang saya suka tidak harus lagu baru. Dia bisa lagu lama yang entah kenapa jadi pengen didengerin lagi. Seperti kali ini, lagu yang sedang saya suka adalah lagu "Dewi" dari Dewa. Wah … lucu juga ya … dewi, dewa. ha ha ha. Suka lagu ini karena minggu lalu(?) sepintas - sekelebat - terlihat Dewa di TV pas sedang menyanyikan lagu ini. Pokoknya asyik saja. Jadi hari ini, lagu ini sudah saya putar lebih dari dua puluh kali. He he he …

Sekarang mau muter lagu itu, tapi pakai earphone. Supaya nggak diprotes. Lagian ini sudah malam. … Good night.

Kamu bisa kerjasama?

Banyak yang mengira bahwa kemampuan IQ (nilai raport) yang dicari perusahaan ketika mereka mencari pegawai. Salah besar!

Ternyata setelah saya amati lebih jauh, kemampuan kerjasama (team work) merupakan salah satu hal yang paling penting. Atau mungkin juga yang paling penting. Nilai sekolah, raport, transkrip, pokoknya yang berkaitan dengan IQ memang penting. Dia memang penting pada tahap awal untuk menentukan dilihat atau tidaknya (perlu diwawancara atau tidak), tetapi setelah itu … nilai tersebut dimasukkan ke tong sampah. Penguji akan lebih tertarik kepada kemampuan berkomunikasi dan bekerjasamanya seseorang.

Teamwork, kerjasama, ternyata tidak mudah. Agar kamu bisa kerjasama dengan orang lain, perlu belajar dan perlu pengalaman.

Kadang-kadang kita berada dalam satu tim dengan orang yang nyebelin. Gimana kita menyikapinya? Kadang kala kita juga dalam satu tim dengan orang yang nggak pedulian, padahal tugas harus diselesaikan. Nah, di sinilah kita harus belajar. Belajar bagaimana jadi pemimimpin, bagaimana memimpin (apalagi orang yang dipimpinnya ngaco-ngaco), bagaimana harus bersabar, bagaimana membagi-bagi tugas ke anggota, bagaimana ikut menyelamatkan tim dari kekalahan, kehancuran. Di situ juga kita belajar menerima kritikan (nggak boleh marah, nggak boleh defensif). Begitulah. Kalau nggak belajar, gimana bisa? Ya nggak?

Itulah sebabnya ketika masih di sekolah atau di kamus, sering-sering gabung dengan organisasi. Misalnya ada OSIS, himpunan mahasiswa, atau kelompok olah raga. Pokoknya belajarlah untuk kerjasama.

Nah, siap bekerjasama dengan saya?

Ada Monyet Nyetir Mobil

Pada suatu hari ketika saya sedang berkendaraan, tiba-tiba … clung.
Keluar plastik dari kaca mobil di depan. Hah?

Setelah itu cleng, keluar daun bungkusan bekas makanan. Wah, sebentar lagi mungkin kulit pisang. Clong, bener juga! Keluar kulit pisang dari kaca mobil itu! (Jangan, jangan mikir panci. Nanti nggak tahunya panci juga yang keluar. Berabe.)

Busyet! Ada monyet nyetir mobil.

Setelah bersebelahan dengan mobil yang bersangkutan, saya lihat … ternyata memang benar monyet yang nyetir mobil. Tapi monyetnya berkumis. He he he. Di kesempatan lain, monyetnya tidak berkumis tapi berlipstik. Hi hi hi. Herannya, mereka nggak merasa bersalah.

Aduuuh… Sebel bener. Kenapa sih mesti membuang sampah di jalan? Takut mobilnya kotor? Mosok gara-gara itu mesti buang sampah di jalan. Simpan saja sampahnya di tong sampah kecil di dalam mobil. Atau wadah runtah (tempat sampah, kantong kresek) lainnya lah. Nanti kalau sudah berhenti, cari tempat sampah untuk membuang sampah itu. Nggak susah kan? Kalau mau bisa kok.

Nah, apakah Anda pernah jadi monyet? he he he. Jangan marah …

Kualitas anak sekarang menurun

Sedih saya melihat pemberitaan di surat kabar mengenai anak SD yang dikeroyok temennya hingga meninggal. Di blog lain ada juga seorang ibu yang kesal karena keponakannya juga dikeroyok kawannya di sekolah. Ini SD lho!!!

Di sisi lain, kita (orang tua, pemerintah, guru) terlalu terpaku dan membesar-besarkan kemampuan IQ, kepintaran pendidikan. Lihat saja UAN yang baru berjalan. Kalau tidak pinter lantas dianggap memalukan. Padahal lebih memalukan kalau anak-anak itu tidak sopan, tidak bisa menghargai kawannya, tidak peka terhadap masyarakat, dan tidak memiliki jiwa sosial.

Anak-anak sekarang cuek saja melihat lingkungan di sekitar. Kalau ada yang menderita, dibiarkan saja. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Padahal di dunia kerja nantinya, atau di kehidupan, IQ atau nilai rapor itu kecil sekali nilainya. Dia hanya sebagai batu loncatan atau langkah awal saja agar diberi kesempatan. Setelah itu? Yang penting adalah sifat sosialnya, bisa bekerjasama, memiliki kepribadian baik, kepemimpinan, peka terhadap lingkungan dan masyarakat, dan seterusnya. Setidaknya, itu yang ada di lingkungan perusahaan saya.

Bagaimana membuat karakter anak-anak Indonesia menjadi lebih baik? Anak Indonesia sekarang harus lebih baik dari orang tuanya. Kita-kita ini (yang sudah tua), sudah terlambat untuk diperbaiki. Sudah rusak mental dan moralnya! Jangan diikuti. Lebih baik kalian, anak-anak muda Indonesia, mendefinisikan yang terbaik bagi kalian dan lakukan. Ayo kita perbaiki Indonesia. Mau?