Kualitas anak sekarang menurun
Sedih saya melihat pemberitaan di surat kabar mengenai anak SD yang dikeroyok temennya hingga meninggal. Di blog lain ada juga seorang ibu yang kesal karena keponakannya juga dikeroyok kawannya di sekolah. Ini SD lho!!!
Di sisi lain, kita (orang tua, pemerintah, guru) terlalu terpaku dan membesar-besarkan kemampuan IQ, kepintaran pendidikan. Lihat saja UAN yang baru berjalan. Kalau tidak pinter lantas dianggap memalukan. Padahal lebih memalukan kalau anak-anak itu tidak sopan, tidak bisa menghargai kawannya, tidak peka terhadap masyarakat, dan tidak memiliki jiwa sosial.
Anak-anak sekarang cuek saja melihat lingkungan di sekitar. Kalau ada yang menderita, dibiarkan saja. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
Padahal di dunia kerja nantinya, atau di kehidupan, IQ atau nilai rapor itu kecil sekali nilainya. Dia hanya sebagai batu loncatan atau langkah awal saja agar diberi kesempatan. Setelah itu? Yang penting adalah sifat sosialnya, bisa bekerjasama, memiliki kepribadian baik, kepemimpinan, peka terhadap lingkungan dan masyarakat, dan seterusnya. Setidaknya, itu yang ada di lingkungan perusahaan saya.
Bagaimana membuat karakter anak-anak Indonesia menjadi lebih baik? Anak Indonesia sekarang harus lebih baik dari orang tuanya. Kita-kita ini (yang sudah tua), sudah terlambat untuk diperbaiki. Sudah rusak mental dan moralnya! Jangan diikuti. Lebih baik kalian, anak-anak muda Indonesia, mendefinisikan yang terbaik bagi kalian dan lakukan. Ayo kita perbaiki Indonesia. Mau?
Engga ah pa, anak-anak sekarang digembor-gemborkan untuk meraih multiple intelligent-nya. EQ-SQ-IQ dipromo-promokan sebagai visi-misi berbagai sekolah dasar, setidaknya dari 5-6 tahun lalu - ketika saya survei SD. Memang, mungkin baru beberapa sekolah saja, masih unsignificant.
Kalau mau generasi yang lebih baik, menurut saya, orang tuanya juga terus belajar jadi orang tua yang baik. Memang sih, tidak ada universitas menjadi orang tua, baik jalur akademis maupun praktis. Tapi komunitas parenting sudah banyak koq, insya allah - awareness mah sudah ada.
-optimis mode - always

masih tingkat 1 parenting school
eh `Engga` itu bukan menjawah pertanyaan `Mau` dari bapa ya
Mau koq, mau doung. Jelek-jelek, negara sendiri.
Maskud saya, enggak ah, kata siapa kualitas anak itu menurun, barangkali yang terekspos saja lah yang terlihat.
Kesadaran akan pentingnya sisi lain selain IQ itu sudah banyak dibahas koq. Mungkin sistem di pendidikan dasar (diknas) yang belum mengkover.
Lebih baik memulai dari sistem yang paling kecil yaitu keluarga. Home sweet home pa
-a-
Full Time Mom ++
(plus as pengajar - peneliti - pengabdi)
Yaahhh… kalau mengharapkan perbaikan dari orang tua atau keluarga, kapan jadinya. Ini kan hanya internal.
Bukannya saya tidak mementingkan perbaikan keluarga sendiri, tapi kita juga harus reaching out. Ikut memperbaiki orang lain.
Lagian, anak-anak juga banyak waktunya yang dihabiskan dengan teman-temannya. Nah, kalau kita tidak mencoba memperbaiki melalui sebuah sistem, mana bisa dia berubah sendiri. Tul gak?
Bagaimana komentar dari anak-anak itu sendiri?