Masalah Kita Paling Berat

Seringkali kita merasa bahwa masalah yang kita hadapi adalah masalah yang paling berat di dunia. Seringkali kita merasa frustasi, kesal, geram, marah, lelah, capek, putus asa, dan seterusnya.

Nah, kalau menghadapi situasi seperti ini biasanya saya mencoba melihat masalah orang lain. Kasarnya sih melihat orang yang lebih menderita dari kita. (Jahat nggak ya?) Setelah melihat itu, saya baru sadar bahwa permasalahan yang saya hadapi tidak sebesar yang dihadapi orang itu. Memang kita masih punya masalah (yang harus diselesaikan, bukan untuk dihindari), tetapi sekarang rasa kesal dan frustasi kita bisa lebih berkurang.

Seringkali juga saya ikut terlibat dalam memecahkan masalah orang sehingga masalah yang saya hadapi terlihat kecil, dan dipecahkan tanpa terlalu banyak pertimbangan. Maksudnya bukan sekenanya, gitu. Maksudnya kita nggak terlalu mikir terlalu jauh dan berlebihan sehingga dengan cepat bisa kita pecahkan masalah tersebut.

Jadi, kalau kita punya masalah … santai saja. Kita pecahkan itu masalah. Ok?

Gak boleh ngomong!

Minggu lalu mulai terasa sakit di tenggorokan. Biasa laryngitis(?). Tetapi dipaksa seolah gak ada apa-apa. Nah, ternyata kebawa terus dan hari Kamis malam suara habis. Hilang. Gak keluar suara. Halah.

Tadi baru saja pulang dari dokter. Kata dokter, penyanyi ya? He he he. Nggak sih, tapi memang hari Kamis malamnya itu main band dengan kawan-kawan. Ya jelas menyanyi. Itulah sebabnya hilang suara.

Pulang dari dokter diberi obat untuk sakit di tenggorokan ini dan batuknya (ya, sekarang tambah batuk kalau malam). Satu lagi saran bu dokter: puasa bicara. Hah? Gimana nih? Padahal minggu depan (3 hari lagi) harus memberikan presentasi dan latihan band. Latihan band bisa tidak keluar suara (main gitar aja), tapi memberikan presentasi? Kan harus keluar suara. Ya sudah. Kita lihat nanti saja. Ngapain dipikirin sekarang ya?