Masalah Kita Paling Berat
Seringkali kita merasa bahwa masalah yang kita hadapi adalah masalah yang paling berat di dunia. Seringkali kita merasa frustasi, kesal, geram, marah, lelah, capek, putus asa, dan seterusnya.
Nah, kalau menghadapi situasi seperti ini biasanya saya mencoba melihat masalah orang lain. Kasarnya sih melihat orang yang lebih menderita dari kita. (Jahat nggak ya?) Setelah melihat itu, saya baru sadar bahwa permasalahan yang saya hadapi tidak sebesar yang dihadapi orang itu. Memang kita masih punya masalah (yang harus diselesaikan, bukan untuk dihindari), tetapi sekarang rasa kesal dan frustasi kita bisa lebih berkurang.
Seringkali juga saya ikut terlibat dalam memecahkan masalah orang sehingga masalah yang saya hadapi terlihat kecil, dan dipecahkan tanpa terlalu banyak pertimbangan. Maksudnya bukan sekenanya, gitu. Maksudnya kita nggak terlalu mikir terlalu jauh dan berlebihan sehingga dengan cepat bisa kita pecahkan masalah tersebut.
Jadi, kalau kita punya masalah … santai saja. Kita pecahkan itu masalah. Ok?
Adik saya paling takut dijahit dan seumur umur belum pernah dijahit. Suatu hari tangannya tersayat pisau dan harus dijahit, dia menangis sejadi jadi seperti anak kecil di ruang IGD sebuah rumah sakit.
Saya suruh dia berhenti menangis karena malu udah gede kok nangis, tapi dia terus saja menangis.
Kemudian dari bilik sebelah juga terdengar suara tangisan meledak. Suara tangis bersahut sahutan. Adik saya disela sela tangisnya bertanya apakah orang itu juga tangannya tersayat pisau? Suster menjawab, bukan disebelah itu anaknya meninggal dunia.
Adik saya sontak berhenti menangis.
Wuih …